12/03/2017
Barudak kelas ku (XII A6) sedang berlibur ke vila, entah vila itu berada di mana, yang jelas jenis bangunan vilanya adalah berarsitektur seperti gedung putih, ya seperti vila jaman dahulu, cat nya berwarna putih, dan cukup besar untuk kami. Entah mengapa saat kami sudah berada di vila tersebut, bukannya kami bersenang-senang malahan kami belajar. Hanya sebagian dari kami yang mengikuti pelajaran di vila itu, tidak tahu pelajaran apa itu jelasnya. Sebgian lagi kalau tidak salah telat atau jam siang, yang jelas sebagian (absen atas) ada di kelas ini. Kelas ini seperti kelas di SSC saat aku SD hanya saja bangukunya adalah pergabungan antara bangku tempat les dan bangku sekolah (kelas 12). Aku tidak ingat pelajaran apa itu, tapi saat dipenghujung jam terakhir, saat pergantian kelas, tiba-tiba ada temanku bernama si Depanku tiba-tiba pingsan dan kejang-kejang. Refleks semuanya melihat padanya, semua orang terheran-heran mengapa dia bisa seperti itu. Tidak lama kemudian, entah mengapa obatnya adalah jenis darah ku, ya darah merah miliku, kalau tidak dia akan mati. Ya jelas saja, aku segera ingin menyumbangkan darah ku, tetapi entah siapa (ada suster/tim medis) mengatakan aku masih terlalu muda untuk mendonorkan darahku jika tetap dipaksakan akan sia-sia (tidak berefek apa-apa). Aku panik saat itu, karena hanya aku yang dapat menyembuhkannya tapi aku tidak bisa, aku merasa bersalah jika dia mati karena aku masih terlalu muda.
Setelah beberapa lama aku menunggu, tiba-tiba kelas yang jam kedua datang dengan rusuh ke kelas ini. Orang yang paling depan saat ituu adalah si Ligamen, dan dibelakangnya ada beberapa orang, yang ku ingat adalah si Egg. Baru saja mereka sampai, si Ligamen berkata: "Pakai darah aing aja, bisa da. Darah aing soalnya sama (sejenis) kaya daarah si Farhan." Aku sudah merasa cukup lega karena ada juga darah yang tipenya sama denganku, aku kira darah yang aku miliki ini adalah darah yang langka. Tiba-tiba tragedi tadi dianggap sudah selesai. Aku masih berada di vila ini. Aku dan teman-teman (teman-teman MT, tanpa si Ligamen) kali ini berada di lorong luar vila ini. Lorong ini sangatlah luas, ini larut malam, jadi aku di sana bisa melihat langit kehitaman dengan bintang-bintang yang putih. Kami terus berjalan menyusuri lorong tersebut. Lantainya berkeramik, totol-totol abstrak alami berwarna abu ke kreman, pilar-pilarnya yang besar berwarna putih, ada pencahayaan dari obor kuno di dindingnya, dan sesekali di tembok se belah kanan kami ada tergantung (seperti) karpet berwarna merah, karpet dengan corak abad pertengahan. Akhirnya kami mentok sampai ke ujung lorong ini. Ujung lorong ini terdapat sebuah pintu, pintu kayu. Kami penasaran apa yang ada di balik pintu tersebut. Akhirnya, salah satu diantara kami (aku lupa siapa) membuka pintu tersebut, dan ternyata dalamnya... kosong. Ruangan tersebut kosong, tetapi ada sebuah spanduk/poster Girls Band, entah GirlsBand apa itu, aku belum pernah melihat band itu sebelumnya. Kami masih ada di dalam ruangan itu, kami melihat-lihat poster besar itu. Ketika kami sedang melihat-lihat tiba-tiba para anggota Girlsband tadi itu masuk, dan ingin berganti pakaian! sepertinya mereka terlihat sudah konser. Spontan saja kami keluar dengan menundukan kepala dan sedikit "tersenyum". Entahlah... entah apa yang terjadi setelahnya. Kami keluar dengan menundukan kepala, kedua tangan kami menempel di bahu teman kami yang depan (seperti kereta-keretaan) dan setelah itu kami tidak tahu apa yang terjadi...