--/--/----
Hmmm... Aku rasa aku berada di tempat yang sudah tidak asing bagi ku. Langit biru dengan beberapa gundukan awan putih, mataku melihat ke langit. Sudah lama rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini sudah hampir 1 tahun mungkin atau lebih. Tempat yang dulu mempunyai kenangan indah, takpernah ku lupakan, belakang masjid. Dulu di sini aku sering sekali bermain bersama teman temanku, bermain bola dan lainnya, tapi kini aku di sini bukan untuk bermain, aku berada di tempat ini di dunia mimpi.
Terlihat seperti ada dua kelompok besar yang beranggotakan teman-teman ku. Entah berapa orang yang jelas sangat banyak, tempat ini serasa bertambah luas. Aku lihat ini seperti ada permainan "perang-perangan", ada dua kubu kalau tidak salah kubu merah dan kubu biru atau biru untuk yang pro islam dan merah untuk kontra islam. Ya, kami seperti bermain permainan perang seperti catur atau video game civilization, bermain dengan bergiliran antar kubu. Pada awalnya kami bermain dengan senang-senang sampai beberapa permainan tetapi lama kelamaan permainan ini menjadi serius yang awalnya bohongan menjadi perang sungguhan. Kami semua berperang dengan sengit, aku lupa siapa pemimpin kubu biru itu (kubu ku) yang jelas di sana pangkatku tinggi (bukan serdadu ataupun bukan panglima). Suara dan demtuman keras saat perang terdengar sangat kencang. Sampai pada suatu saatnya pasukan musuh meminta bantuan berupa pasukan berkuda coklat yang jumlahnya banyak dan siap menyerang kami. Kuda-kuda itu pun lari mengarah ingin menyerang kepada kami, lalu tiba-tiba pasukan berkuda itu menghilang begitu saja. Aku heran mengapa bisa menghilang. Setelah beberapa saat pasukan kuda itu menghilang, pemimpin dari kubu ku berdiskusi dengan pemimpin dari kubu merah. Aku sebenarnya ikut berdiskusi tetapi aku lupa tentang apa, yang jelas saat diskusi itu telah usai, aku tersenyum mengejek kepada musuh ku tetapi tiba-tiba pasukan berkuda yang sebelumnya menghilang tiba-tiba ada lagi! Aku terkejut dan bertanya kepada pemimpin ku "bagaimana ini?" ia menjawab: "tenang, ini salah satu strategi dari kita."
Hmmm... Aku rasa aku berada di tempat yang sudah tidak asing bagi ku. Langit biru dengan beberapa gundukan awan putih, mataku melihat ke langit. Sudah lama rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini sudah hampir 1 tahun mungkin atau lebih. Tempat yang dulu mempunyai kenangan indah, takpernah ku lupakan, belakang masjid. Dulu di sini aku sering sekali bermain bersama teman temanku, bermain bola dan lainnya, tapi kini aku di sini bukan untuk bermain, aku berada di tempat ini di dunia mimpi.
Terlihat seperti ada dua kelompok besar yang beranggotakan teman-teman ku. Entah berapa orang yang jelas sangat banyak, tempat ini serasa bertambah luas. Aku lihat ini seperti ada permainan "perang-perangan", ada dua kubu kalau tidak salah kubu merah dan kubu biru atau biru untuk yang pro islam dan merah untuk kontra islam. Ya, kami seperti bermain permainan perang seperti catur atau video game civilization, bermain dengan bergiliran antar kubu. Pada awalnya kami bermain dengan senang-senang sampai beberapa permainan tetapi lama kelamaan permainan ini menjadi serius yang awalnya bohongan menjadi perang sungguhan. Kami semua berperang dengan sengit, aku lupa siapa pemimpin kubu biru itu (kubu ku) yang jelas di sana pangkatku tinggi (bukan serdadu ataupun bukan panglima). Suara dan demtuman keras saat perang terdengar sangat kencang. Sampai pada suatu saatnya pasukan musuh meminta bantuan berupa pasukan berkuda coklat yang jumlahnya banyak dan siap menyerang kami. Kuda-kuda itu pun lari mengarah ingin menyerang kepada kami, lalu tiba-tiba pasukan berkuda itu menghilang begitu saja. Aku heran mengapa bisa menghilang. Setelah beberapa saat pasukan kuda itu menghilang, pemimpin dari kubu ku berdiskusi dengan pemimpin dari kubu merah. Aku sebenarnya ikut berdiskusi tetapi aku lupa tentang apa, yang jelas saat diskusi itu telah usai, aku tersenyum mengejek kepada musuh ku tetapi tiba-tiba pasukan berkuda yang sebelumnya menghilang tiba-tiba ada lagi! Aku terkejut dan bertanya kepada pemimpin ku "bagaimana ini?" ia menjawab: "tenang, ini salah satu strategi dari kita."