--/--/----
Aku pada saat itu sedang mengendarai mobil bersama dengan keluarga ku. Mengendarai sebuah mobil mini bus (VW combi) berwarna hijau pastel dan putih dengan corak khasnya mobil tersebut. Dingin sekali rasanya, cuaca hari ini memang sangat dingin dan bersalju. Sekarang bukan hanya bersalju, sekarang sudah mulai badai salju. Teriakan angin begitu kencang dan hujanan salju yang lebat menutup pandangan kami saat berkendara. Terlihat samar-samar dihadapan ku sebuah rumah besar, tak habis pikir, badai salju yang menghantui kami, kami pun langsung menuju ke rumah besar tersebut atau kami sebut vila.
Keluarga kami beranggotakan aku (sebagai kakek-kakek), seorang bapa, ibu dan dua orang anak, yang satu perempuan (kira kira 18 tahun) dan yang satu laki-laki (kira-kira 10 tahun). Kami menepi ke sebuah vila. Dari luar vila tersebut seperti bangunan klasik yang kuat dengan nuansa kayu jatinya. Tak lama kami memasuki vila tersebut. Tidak banyak kata yang diucapkan saat masuk, hanya saja vila tersebut seperti sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya atau sudah lama tidak berpenghuni, sebagian furniturnya masih dibungkus oleh plastik seakan-akan akan ditinggalkan untuk waktu yang lama. Nuansa coklat dan kuning ke emasan menghiasi dekorasi vila teraebut. Mulai dari lampu gantung, tangga, lantai, meja dan kursinya terbuat dari kayu jati dan terlapisi oleh logam berwarna kuning, tidak tahu itu emas atau bukan. Aku rasa vila ini cukup mewah untuk ukuran dan dekorasinya.
Dengan vila yang cukup unik, kami rasa kami akan berkeliling sebentar untuk melihat-lihat ruangan vila yang lainnya. Baru sampai melihat beberapa ruangan kami sudah merasakan hal yang aneh dalam vila ini. Di bagian atas tangga menuju lantai dua aku melihat ada sesuatu yang bergerak, saat aku memalingkan pandangan aku merasa "sesuatu" itu melihat ku dan bergerak tetapi saat aku melihat ke arah mereka ternyata tidak ada apa-apa. Tak lama setelah itu, aku melihat monyet (aku rasa seperti jenis monyet doger monyet tetapi ukurannya seperti babon) di lantai dua di atas tangga, mereka bergelantungan di lampu gantung yang berada diantara tangga. Aku dan lainnya heran mengapa bisa ada monyet di vila ini, disaat itu juga kami merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Kami berusaha mengusir mereka. "Shhhhhh...shhhh" kami berusaha mengusir mereka. Monyet-monyet itu berteriak dan loncat-loncat tidak jelas. Kami mengambil beberapa tongkat dan berusaha mengibas-ngibaskan tongkat ke arah mereka agar mereka pergi. Benar saja mereka pergi dengan rasa kecewa haha. Tak lama kemudian monyet itu datang kembali dengan membawa masa yang lebih banyak. "Sial monyet-monyet itu bertambah banyak" kata ku. Tidak tahu pastinya berapa banyak yang jelas mereka berkalilipat dari jumlah sebelumnya, selain bertambah banyak mereka juga jadi semakin berani terhadap kami. Mereka malah mengusir kami, mereka berani maju dan... terjadi lah perkelahian antara manusia dan monyet. Hahahahahha tentu saja kami manusia dengan menggunakan tongkat dapat dengan mudah memukul mereka tepat dikepalanya. Singkat perkelahian, kami dapat memukul mundur monyet-monyet tersebut. Tak lama kemudian setelah monyet-monyet itu mundur, monyet-monyet itu datang lagi, tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, kali ini monyet-monyet tersebut berasal dari jenis babon berambut hitam dan mereka membawa AK-47! WTF!!! mereka membawa senjata laras panjang dengan damage yang menakutkan. Spontan saja kami saat itu langsung lari, monyet-monyet itu menembaki kami tapi untungnya tidak ada satu pun timah panas yang mengenai kami, entahlah entah kenapa, mungkin karena mereka adalah monyet.
Perasaan panik ini serasa membimbing kami, yang kami pikirkan hanya satu yaitu KELUAR dari vila ini! Setelah beberapa detik berlari akhirnya kami menemukan pintu belakang dari vila ini, tak banyak pikir kami langsung membuka pintu tersebut dan keluar dari vila tersebut. Kami lega sudah bisa keluar dari vila tersebut, tetapi... ini bukan keluar dari vila, ini halaman belakang vila tersebut! masih terdapat pagar dari kayu yang menjulang tinggi yang tak mungkin kami lewati, kami panik, di halaman yang luas dan bersalju ini terdapat sebuah gudang yang cukup besar, gudang tersebut seperti gubuk yang tidak memiliki dinding jadi hanya atap saja. Kami langsung menuju gudang tersebut untuk bersembunyi. Di gudang tersebut banyak sekali barang-barang bekas terutama sparepart otomotif, banyak sekali komponen-komponen untuk mobil ditemukan di gudang tersebut, aku rasa gudang tersebut dulunya adalah sebuah bengkel. Masih dalam keadaan terancam, kami memutuskan memasukan para wanita ke bangkai mobil yang sudah tua karena kami rasa di sana aman, dan tidak terlihat sedangkan para pria berencana melawan monyet-monyet tersebut denga taktik grilia.
Aku dengan pisau, si bapa dan anak laki-laki dengan pipa besinya. Kami bersembunyi diantara barang-barang bekas. Kami merasakan monyet-monyet itu sudah tiba di gudang ini. Mereka berjalan dengan perlahan, dan mereka berpencar diantara satu dengan yang lainnya. Langkah pelan mereka masih terdengar oleh ku. Mereka datang! monyet itu sesaat lagi muncul di samping ku! Saat aku melihat monyet berjalan di hadapan ku melalu sela-sela barang bekas... "Stab!!!" aku menusuk tepat di lehernya. "Klontang... klontang.. klontang!" barang-barang bekas dan kaleng jatuh dengan suara yang berisik nya. Tentu saja suara yang begitu ramai memancing para monyet yang lain untuk datang. Aku mendengar suara monyet-monyet itu berlari. Akhirnya monyet-monyet itu datang dihadapan ku. Aneh nya mereka menurunkan Ak-47 nya dan mulai menggunakan machete (golok) mereka, "mungkin agar pertarungan ini fair" pikirku. Tak lama setelah monyet-monyet itu muncul di hadapanku, si bapa dan si anak juga datang membantu ku. Kami, manusia berhadap-hadapan dengan monyet. Saling menatap mana sebelum pertarungan... dan "Trang, tring!" suara benturan antara golok dengan pipa dan golok dengan pisau, besi dengan besi. Pertarungan ini sangat sengit, mereka lebih jago daripada monyet-monyet yang berada di dalam vila.
Badai salju semakin menggila. Di lain tempat, yaitu di depan vila tersebut ada mobil taksi yang datang, aku rasa mobil taksi new nyork yang berwarna kuning tetapi versi lawasnya. Mobil tersebut datang dan berhenti di vila itu. Supir taksi itu pun keluar dari mobil tersebut. Ia datang saat kami bertarung secara melee dengan para monyet tersebut. Supir taksi itu keluar dari mobilnya, ia mengenakan jaket kulit celana jeans dan kaca mata hitam, cukup keren untuk supir taksi. Setelah dia berjalan beberapa langkah dari mobilnya, dia mengeluarkan handgun (glock-18) dari pinggangnya.
Perasaan panik ini serasa membimbing kami, yang kami pikirkan hanya satu yaitu KELUAR dari vila ini! Setelah beberapa detik berlari akhirnya kami menemukan pintu belakang dari vila ini, tak banyak pikir kami langsung membuka pintu tersebut dan keluar dari vila tersebut. Kami lega sudah bisa keluar dari vila tersebut, tetapi... ini bukan keluar dari vila, ini halaman belakang vila tersebut! masih terdapat pagar dari kayu yang menjulang tinggi yang tak mungkin kami lewati, kami panik, di halaman yang luas dan bersalju ini terdapat sebuah gudang yang cukup besar, gudang tersebut seperti gubuk yang tidak memiliki dinding jadi hanya atap saja. Kami langsung menuju gudang tersebut untuk bersembunyi. Di gudang tersebut banyak sekali barang-barang bekas terutama sparepart otomotif, banyak sekali komponen-komponen untuk mobil ditemukan di gudang tersebut, aku rasa gudang tersebut dulunya adalah sebuah bengkel. Masih dalam keadaan terancam, kami memutuskan memasukan para wanita ke bangkai mobil yang sudah tua karena kami rasa di sana aman, dan tidak terlihat sedangkan para pria berencana melawan monyet-monyet tersebut denga taktik grilia.
Aku dengan pisau, si bapa dan anak laki-laki dengan pipa besinya. Kami bersembunyi diantara barang-barang bekas. Kami merasakan monyet-monyet itu sudah tiba di gudang ini. Mereka berjalan dengan perlahan, dan mereka berpencar diantara satu dengan yang lainnya. Langkah pelan mereka masih terdengar oleh ku. Mereka datang! monyet itu sesaat lagi muncul di samping ku! Saat aku melihat monyet berjalan di hadapan ku melalu sela-sela barang bekas... "Stab!!!" aku menusuk tepat di lehernya. "Klontang... klontang.. klontang!" barang-barang bekas dan kaleng jatuh dengan suara yang berisik nya. Tentu saja suara yang begitu ramai memancing para monyet yang lain untuk datang. Aku mendengar suara monyet-monyet itu berlari. Akhirnya monyet-monyet itu datang dihadapan ku. Aneh nya mereka menurunkan Ak-47 nya dan mulai menggunakan machete (golok) mereka, "mungkin agar pertarungan ini fair" pikirku. Tak lama setelah monyet-monyet itu muncul di hadapanku, si bapa dan si anak juga datang membantu ku. Kami, manusia berhadap-hadapan dengan monyet. Saling menatap mana sebelum pertarungan... dan "Trang, tring!" suara benturan antara golok dengan pipa dan golok dengan pisau, besi dengan besi. Pertarungan ini sangat sengit, mereka lebih jago daripada monyet-monyet yang berada di dalam vila.
Badai salju semakin menggila. Di lain tempat, yaitu di depan vila tersebut ada mobil taksi yang datang, aku rasa mobil taksi new nyork yang berwarna kuning tetapi versi lawasnya. Mobil tersebut datang dan berhenti di vila itu. Supir taksi itu pun keluar dari mobil tersebut. Ia datang saat kami bertarung secara melee dengan para monyet tersebut. Supir taksi itu keluar dari mobilnya, ia mengenakan jaket kulit celana jeans dan kaca mata hitam, cukup keren untuk supir taksi. Setelah dia berjalan beberapa langkah dari mobilnya, dia mengeluarkan handgun (glock-18) dari pinggangnya.
Ak-47
glock-18
machete


