Mimpi --/--/2016
Hari-hari dijalani seperti biasa, tidak ada yang menarik ataupun tanda-tanda yang spesial tapi malam ini aku mendapati mimpi yang spesial...
kisaran pukul 3 pagi aku mendapati mimpi ini...
Ada tiga orang sosok yang mendatangi rumahku saat itu. tiga sosok itu masih blur dari kejauhan, tidak jelas siapa ke-3 orang itu. Perlahan-lahan mereka menghampiri rumahku, akhirnya mereka masuk ke dalam rumahku. Saat itu aku tidak tahu mereka, aku sedang berada di dalam kamarku, salah satu tempat terindah di dunia. Mereka bertiga duduk di kursi di ruang tamu, aku tidak peduli siapa itu tapi, tidak lama orang tuaku memanggil ku untuk keluar kamar dan menemui tamu-tamu itu. Aku pun mematuhi perintah orang tuaku dan segera keluar kamar. Aku ingat saat itu aku mengenakan baju koko berwarna putih dan celana bahan hitam yang biasa aku kenakan untuk pergi ke masjid. Yah... aku keluar dari duniaku. Aku keluar kamar dan menemui tamu-tamu tersebut, aku lihat wajah-wajah tamu tersebut, ada dua orang yang tidak aku kenali dan ada satu wajah yang aku kenali. Aku heran mengapa mereka datang kerumahku padahal aku tidak dekat dan tidak ada hubungan apa-apa dengan orang-orang itu. Sepasang suami istri dan satu wanita, dan aku rasa wanita itu adalah anak dari kedua orang itu. Dan benar saja dia adalah anak mereka. Setalah sekian lama duduk di ruang tamu akhirnya mereka mengatakan tujuan utama mereka "mengapa kami datang ke mari". Salah satu diantara kedua orang tua itu berkata "Kami datang ke mari untuk menjodohkan anak kami dengan anak kalian". Lalu ibuku berkata kepadaku "kumaha de?" "Hah?!"Aku merasa heran mengapa ini bisa terjadi? Mengapa ada yang bisa datang ke rumah ku dengan tujuan seperti itu. Aku mulai berfikir dan mempertimbangkan pilihan mana yang aku harus pilih? Terjadi komflik dalam hati "Anjisss... Naha kudu si eta, aing da teu bogoh ka si eta, teu deukuet deui. Kumahnya?". Aku melihat ke beberapa fakta yang sudah terjadi pada diriku. Saat itu aku ingat seumur hidup ku aku baru satu kali jatuh cinta, belum pernah pacaran dan belum pernah ada perempuan yang naksir padaku. Menerima atau menolak? Hmmm... aku semakin bingung.... aku berfikir cepat dalam mempertimbangankan pilihanku itu, aku dengan ragu mengatakan "Iya", dalam hatiku aku berkata "Ya udah lah, coba aja dulu, siapa tahu ini yang terbaik, lagi pula ia tidak buruk juga."
Aku tahu tentang pilihan yang ku buat. Pilihan ini akan menentukan kehidupan ku selanjutnya. Entahlah, entah apa yang terjadi dalam mimpi ini seperti terjadi banyak time skip. Tiba-tiba aku berada di gedung, di gedung Bikasoga akad pernikahan ku dengan dia. Akad nikah berjalan. Terdapat tamu-tamu dari keluarga dekat dan beberapa wajah yang aku tidak kenali, suasana remang-remang, tidak terlalu terang dengan cahaya kuning atau oranye yang meenyinari aula tempat kami menikah. Saat itu aku menggenakan jas putih, celana putuih, dan serba putih, lalu kulihat calon pengantin ku, ia juga mengenakan kebaya pengantin putih pokoknya ia juga mengenakan pakaian serba putih. Dia melihatku sembari tersenyum lalu aku balas menatap dia dengan tatapan biasa dan senyuman karena aku sebenarnya tidak mencintainya. Akad nikah pun benar-benar berjalan. Aku tidak merasa gugup sedikit pun. Aku menjulurkan tanganku lalu menjabat tangan pak penghulu, aku berkata "Saya terima nikahnya dan kawinnya - binti Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Sah?" "Sahhh...." dengan jelas parasaksi menjawab. Aku melihat dia tersenyum kepada ku lalu aku tersenyum, tersenyum bahagia, bahagia yang palsu.
Setelah prsitiwa akad itu berlangsung, terjadi time skip kembali untuk beberapa hari kedepan. Kehidupan dalam dunia ini sedikit berbeda dengan kehidupan monoton yang aku ajalani di dunia nyata, walaupun sedikit berbeda, di dalam mimpi ini aku sudah memiliki pekerjaan dan berpenghasilan tentunya. Kehidupan ini terasa semakin berbdeda ditambah aku memiliki anggota keluarga baru, istri "tercinta". Kisah ini berlanjut, tidak jelas hari apa tapi aku rasa ini adalah hari libur karena aku sedang menonton TV dipagi hari sekitar pukul 8 atau 9. Seperti biasa aku mengguanakan starter pack yaitu kaos hitam polos dan sarung. Saat aku sedang menonton TV lalu dia tiba-tiba menghampiriku. Aku ingat dia tersenyum bahagia saat menghampiriku dengan wajah berseri-seri. Dia mulai duduk di sebelahku, aku menghiraukannya, sesekali aku hanya menjawab "ya","tidak" atau "hmm",aku tetap fokus ke acara TV pagi hari itu, tapi lama-lama dia menyenderkan kepalanya ke bahuku dan mulai manja-manja dan bercerita tentang... (akau lupa tentang apa, entah tentang masa lalunya atau apapun itu, yang jelas dia berusaha menghiburku dan menarik perhatian). Saat dia sedang bercerita aku hanya menjawab "Ya" dengan berpura-pura mendengarkan ceritanya, seraya dalam hati aku berkata "Duhh... ngapain sih ieu anak." aku biarkan dia bercerita dan menyandarkan kepalanya walaupun aku tidak menginginkan itu. Aku tidak membencinya, hanya saja aku benar-benar tidak mencintainya.
Mimpi ini adalah salah satu mimpi paling panjang dan detail yang pernah aku alami. Setiap detail di mimpi ini sangatlah nyata sampai-sampai aku sangat tidak sadar ini adalah mimpi, dan aku merasa ini adalah kehidupan nyataku. Dari mulai latar tempat, suasana dan orang-orang dalam mimpiku ini sama persis seperti di kehidupan nyata. Kembali ke mimpi. Beberapa hari telah berlalu. Kejadian itu kembali terulang, dia mulai manja-manja dan menyenderkan kepalanya kepadaku, hanya saja di kejadian ini ada yang berbeda. Di saat yang sama, saat aku sedang menonton TV dia menghampiriku, dia melakukan hal yang sama seperti pada waktu itu, menyandarkan kepalanya dan bercerita tentang sesuatu. Tapi kali ini aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Saat itu aku sedang menonton TV dan dia sedang membuat minuman di dapur. Di rumah itu dapur dan ruang keluarga menyatu atau berdekatan, sehingga bisa berbicara secara langsung dengan ku, kali ini berbeda, pada saat itu dia sedang membuat minuman di dapur seraya bercertita, tapi cerita pada saat itu adalah cerita lucu, ya dia ngabanyol istilahnya, banyolannya pada sangat itu sangat lucu sehingga aku tidak kuasa menahan tawa, sampai-sampai menggigit lidah/bibirku sendiri untuk menanhannya. Aku lupa tentang apa lelucon tersebut yang jelas itu bagaikan "bom" tawa yang memaksaku untuk tersenyum kepadanya. Spontan saja aku lebih menanggapi tentang ceritanya, aku mulai menjawab dan melihat matanya, aku pun mulai tersenyum berseri. Ada ketertarikan dengan cerita lelucon tadi jadi aku berkata kepadanya: "Terus... terus...?" untuk memintanya melanjutkan ceritanya itu. Lalu dia duduk di sampingku sambil memegang minumannya (kalau tidak salah teh hangat), dia bercerita, dan memang ceritanya kali ini sangat lucu, akupun mulai menanggapinya, sesekali aku juga balas bercerita tentang masa lalu atau apapun itu. Saat kami sedang duduk berdua dan saling bercerita, dia mulai menyenderkan kepalanya kepadaku, aku mulai menjulurkan tangan ku untuk merangkul bahunya, aku melihat wajahnya, wajah yang penuh dengan senyum bahagia, aku pun turut tersenyum. Aku mulai lebih menerima dan memahaminya dan dalam hati aku berkata "Lucu juga ya si -."
Hari demi hari kami jalani bersama. Hari-hari yang menyatukan kami. Kehidupan sepasang kekasih baru benar-benar aku alami, bercanda bersama, tertawa bersama dan banyak hal konyol yang kami lakukan bersama-sama. Aku rasa dia adalah orang yang "jeprut" sama sepertiku, ya... banyolan-banyolan diantara kami beruda serasa tidak ada yang basi, kami selalu tertawa bersama. Di bawah rangkulan ku dia selalu bercertia, ada saja cerita yang ia bawakan. Walau di dalam dinginnya malam dan waktu sudah berjalan larut dengan ditemani secangkir kopi atau teh hangat kami terus saja bercerita berdua. Sampai... sampai pada akhirnya dia tertidur di atas kedua pahaku. Aku tatap wajahnya yang sedang tertidur nyaman, aku memainkan rambutnya yang hitam di sebelah telinganya, aku memindahkan beberapa helai rambut kebelakang telinganya dan sesekali mengelus kepalanya, di sini aku mulai menyadari rasa yang telah lama hilang, dan akhirnya ia menjamah hatiku, perasaan ini... Cinta.
Kami sedang mengemasi barang-barang kami. Pergi ke luar kota perdana untuk sepasang suami istri baru. Saat itu adalah hari raya Idul Adha. Kami bersiap-siap untuk mudik ke kampung halaman orang tua ku, tepatnya ke Kota Tasik. Setelah semua barang siap akhirnya kami pergi dengan menggunakan mobil. Aku yang mengemudikan mobilnya sedangkan dia berada di bangku penumpang depan atau sebelahku. Perjalanan dari kota menuju kampung di Tasik melewati banyak jalan-jalan yang indah yang masih asri dengan pepohonan yang rimbun disertai cahaya kuning matahari terbit yang semakin menyinari cinta kami. Suasana damai, tenang dengan pemandangan yang indah membuat dunia ini bagai hanya milik berdua. Padahal jalan dari Bandung ke Tasik di dunia asli itu biasa saja. Akhirnya setelah melewati perjalanan yang menyenangkan kami tiba di kampung halaman, tepatnya di Awipari, dengan udara perkampungan yang masih segar. Sesampainya di sana kami menurunkan barang-barang dan segera menuruni tangga dan menuju jembatan. Setelah melewati jalan menurun aku melihat rumah tempat keluargaku. Pada saat sampai ke halaman rumah tersebut, kami langsung di sambut gembira oleh orang tua ku. Ibu dan bapaku menyambutku dengan senang, mereka menggoda ku dengan kata-kata pengantin baru maksudnya seperti "cie..cie pengantin baru uy" ya seperti itu, ya aku pun tersenyum sedikit malu. Teteh ku juga berada di sini, ia ternyata sudah mempunyai suami (bahkan anak aku lupa). Keluarga intiku akhirnya berkumpul dengan bertambahnya anggota keluarga baru. Perkumpulan keluarga yang sangat membahagiakan. Setelah itu bapaku mengajak kami sekeluarga untuk "nyate" ya membuat sate. Tidak ada kata untuk menolak ajakan itu, istriku mengajak: "ayo han bikin sate" aku tersenyum dan menjawab: "sok-sok, nanti weh aku mah.". Istriku dan keluargaku yang lain langsung menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan lalu mereka segera membakar sate tersebut. Disana hanya aku yang tidak ikut membuat sate, bukan karena aku tidak mau, hanya saja pada saat itu aku sedang melihat dari kejauhan istri dan keluargaku membuat sate. Terlihat tawa dan raut wajah yang bahagia dari mereka semua. Aku duduk di saung dengan menopang dagu terkadang sambil melihat ke langit biru yang damai, lalu melihat mereka dari kejauhan. Aku merasaskan rasa bahagia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, melihat keluarga inti ditambah ada kehadiran istri yang semakin mewarnai kebahagiaan ini, aku berkata dalam hati "Jadi, jadi ini yang namanya kebahagiaan keluarga?" aku seakan-akan tidak percaya hal ini terjadi, rasa bahagia yang menyelimuti hati ini tidak kuasa membuatku menitikan air mata haru, untuk pertama kalinya air mata ini jatuh akibat rasa bahagia.
"Hahhh... hahhh...hahhh.." suara nafasku. Aku terengah-engah, Aku sempat terdiam sebentar, terduduk dan merenung di atas tempat tidurku, aku berfikir sebentar... ternyata itu semua hanya mimpi, mengapa mimpi itu sangat nyata, sampai-sampai aku merasa itulah kehiadupanku. Termerenung dengan mengadahkan kepala ke arah langit-langit kamar, aku masih tidak percaya akan mimpi yang sangat indah itu, rasa bahagia masih sangat terasa walaupun aku sudah terbangun, dan kenangan mimpi itu masih sangat melekat. Aku merasa bersyukur telah mendapatkan mimpi yang sangat indah, bahkan aku sempat berfikir aku rela menukarkan kehidupan nyataku dengan mimpi itu (ini gila). Aku mulai mengingat kembali, merangkai urutan kejadian mimpi itu, dari mulai ada tiga orang tamu datang sampai pulang ke kampung halaman di Tasik, dan aku mulai mengingat kembali rasa bahagia, rasa yang sangat aku inginkan terjadi di kehidupan nyata. Aku berfikir "indah-indah teuing mimpi teh, indah-indah teuing mimpi teh, indah-indah teuing MIMPI teh" ya dari kata-kata "indah-indah teuing mimpi teh" aku bisa menyimpulkan "Mimpi saja sudah sangat bahagia apalagi jika itu kenyataan." pikirku. Aku sempat beberapa saat untuk memikirkan jika hal itu menjadi kenyataan, aku mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, dan peluang untuk mewujudkan mimpi itu menjadi nyata. Aku rasa itu bukan hal yang mustahil, sangat tidak mustahil, sangat mungkin!
Saat di sekolah, aku biasa datang sangat pagi-pagi mungkin ada sisa satu jam di sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Aku dapat melihat siapa saja yang datang dari jendela kelas ku. Saat aku melihatnya perasaan itu belum muncul, aku masih memiliki perasaan yang biasa saja terhadap dia. Entahlah, aku lupa hari-hari pertama setelah mimpi itu terjadi. Tapi seiring dengan waktu ada perasaan yang asing bagiku. Perasaan itu belum muncul sepenuhnya, masih jarang dia mampir ke dalam pikiranku, aku selalu memikirkan hal lain, tapi mimpi itu, mimpi indah bersamanya selalu aku ingat, selalu terbayang dalam pikiranku. Tidak tahu mengapa mimpi itu selalu melekat, mungkin itu benar-benar yang aku inginkan. Benar bukan orang-orang ataupun tokoh utama dalam mimpi itu, bukan dia yang aku inginkan pada awalnya tapi, aku sangat menginginkan rasa bahagia, rasa bahagia yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Rasa bahagia itu selalu membayangi pikiran ku, diwaktu luang aku selalu mengingat kembali mimpi tersebut. Lama kelamaan mimpi ini, dunia khayal mimpi ini merubah dunia yang nyata. Hari-hari telah berlalu aku mulai melihat matanya walaupun dia tidak melihatku. Ya, akhirnya aku merasakan hal yang semua orang pasti merasakannya, cinta.
Berhari-hari telah berlalu, aku akui perasaan ini semakin menjadi-jadi, aku kira aku butuh teman yang bisa menjaga rahasia dan memberikan saran untuk ku, itu bukan karena aku tidak bisa mengatasi sendirian tapi saran orang yang lebih mengerti dan seimbang akan sangat membantu. Sudah ku kira pasti jawabannya begitu. Setelah beberapa hari aku selidiki tentangnya, ternyata dia menyukai orang lain. Tidak ada masalah dengan hal itu. Saat aku tahu siapa orang itu aku selalu melihat matanya. Dia beberapa kali tertangkap basah oleh ku melihatnya. "Oh jadi si eta oge beuki ka manehna." Itu kesimpulan yang aku dapat, aku rasa aku sudah tahu lebih awal daripada orang lain tentang hal ini. Dalam hal ini, dia memiliki "Networth yang lebih tinggi dariku (di sini bukan berarti kekayaan, tetapi tentu saja hal lain)". Ya secara keseluruhan "Networth-nya" lebih tinggi dariku, tapi bukan itu masalahnya, aku tidak peduli dengan networth-lah atau apupun itu, yang jadi masalahnya si - menyukai si dia. Tidak peduli jika networh-nya lebih besar atau lebih kecil jika tetap si - menyukai si dia dan si dia menyukai si -.
Tidak apa-apa, aku mengerti apa yang namanya cinta. Aku pernah mengalami jatuh cinta. Kita sama-sama jatuh cinta, tapi perbedaannya aku cinta kamu tapi kamu cinta dia. Percuma saja jika aku mempunyai gunung emas dan lautan berlian, aku tetap tidak bisa mengalahkan seseorang yang saling mencintai. Tidak apa-apa, aku mengerti rasanya, rasa bahagia jika dapat bersama dengan orang yang dicintai. Hanya saja... aku ingin aku menjadi aku yang dulu, yang tidak ada rasa cinta, rasa kekosongan yang aku rindukan, merasa bebas, tidak ada hal yang aku pikirkan, aku ingin waktu-waktu ku kembali. Ini mengganggu! Kau... kau menjadi euforia di dalam utopia mimpi yang akan tetap menjadi mimpi... tetap mimpi... tetaplah menjadi bunga tidur yang tidak akan bisa ku genggam. Tapi... tapi tetaplah aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku tidak bisa sembunyi dari perasaanku sendiri, perasaan itu... mimpi itu... seakan-akan menarik dan memberikan sepercik harapan. Kau harus berusaha mewujudkannya, berusaha dengan jalan yang benar. Aku yakin, setidaknya jika aku tidak bisa mendapatkan pemeran utama dalam mimpi itu, aku tetap bisa mendapatkan rasa bahagia itu walaupun dengan pemeran pengganti, aku yakin itu akan lebih baik dari mimpi tu. Ya... waktumu belum habis tapi sebaliknya, waktumu baru saja tiba. Mungkin tujuh sampai sepuluh tahun yang akan datang aku akan melihat tulisan ini lagi, Aku akan tersenyum melihat tulisan ini disaat waktuku sudah habis dan tidak ada harapan lagi. Hanya ada satu harapan lagi untuk dimasa yang akan datang nanti... aku ingin kata "Aku" di judul ini, menjadi... "Kita".
Tidak apa-apa, aku mengerti apa yang namanya cinta. Aku pernah mengalami jatuh cinta. Kita sama-sama jatuh cinta, tapi perbedaannya aku cinta kamu tapi kamu cinta dia. Percuma saja jika aku mempunyai gunung emas dan lautan berlian, aku tetap tidak bisa mengalahkan seseorang yang saling mencintai. Tidak apa-apa, aku mengerti rasanya, rasa bahagia jika dapat bersama dengan orang yang dicintai. Hanya saja... aku ingin aku menjadi aku yang dulu, yang tidak ada rasa cinta, rasa kekosongan yang aku rindukan, merasa bebas, tidak ada hal yang aku pikirkan, aku ingin waktu-waktu ku kembali. Ini mengganggu! Kau... kau menjadi euforia di dalam utopia mimpi yang akan tetap menjadi mimpi... tetap mimpi... tetaplah menjadi bunga tidur yang tidak akan bisa ku genggam. Tapi... tapi tetaplah aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku tidak bisa sembunyi dari perasaanku sendiri, perasaan itu... mimpi itu... seakan-akan menarik dan memberikan sepercik harapan. Kau harus berusaha mewujudkannya, berusaha dengan jalan yang benar. Aku yakin, setidaknya jika aku tidak bisa mendapatkan pemeran utama dalam mimpi itu, aku tetap bisa mendapatkan rasa bahagia itu walaupun dengan pemeran pengganti, aku yakin itu akan lebih baik dari mimpi tu. Ya... waktumu belum habis tapi sebaliknya, waktumu baru saja tiba. Mungkin tujuh sampai sepuluh tahun yang akan datang aku akan melihat tulisan ini lagi, Aku akan tersenyum melihat tulisan ini disaat waktuku sudah habis dan tidak ada harapan lagi. Hanya ada satu harapan lagi untuk dimasa yang akan datang nanti... aku ingin kata "Aku" di judul ini, menjadi... "Kita".