Langsung ke konten utama

Taming, Mimpi 14

14/03/2017
     
Mimpi ini aku dapati saat sedang tidur siang di hari selasa, hari ini tidak sekolah, karena ada kegiatan OSN di sekolah ku.

     Di hutan entah berantah, di hutan dengan pepohonan yang sanggat besar dan tinggi, pohon-pohon itu terlihat seperti pohon cemara, tepatnya seperti hutan RedWood di game ARK. Di Redwood ini ada sebuah koloni manusia yang terdiri dari anak-anak kelas ku. Pakaiannya persis seperti hide cloth di game ARK. Hutannya sangat indah, dengan pepohonan dan bioma yang khas. Tapi ada yang aneh disini, di sini aku menikah dengan si SJR. Pernikahannya dilangsungkan di tengah hutan Redwood tersebut, jika tidak salah saat itu waktunya adalah pagi hari dengan masih berkabut. Semua orang di koloni kami mengucapkan selamat, ada banyak yang aneh mengapa aku bisa mendapatkan si SJR, ada juga yang terkejut seraya berkata "Cieeee, edan euy maneh bisa meunangkeun si eta." Tapi ucapan selamat yang paling aku ingat adalah ucapan selamat dari si Ligamen, dia berkata "Selamat han, maneh nikah jeung si SJR." "Heueuh heueuh..."  Sambil menganggukan kepala dan tersenyum palsu. Aku tersenyum dengan senyuman palsu karena sebenarnya aku menikah dengan si SJR hanyalah taktik atau siasat politik. Ya, sebelum kami melaksanakan pernikahan kami (aku dan si SJR) sudah membuat kesepakatan dan perjanjian, perjanjiannya aku dan si SJR akan menangkap atau menjinakan Mantis, belalang sembah. Belalang sembah ini bukanlah sembarang belalang sembah, belalang sembah ini memiliki ukuran yang tidak masuk akal, belalang ini berukuran sebesar truk! Dan belalang ini sering meresahkan warga. Saat itu orang yang bisa menangkap/taming belalang itu hanya aku dan si SJR, tapi entah mengapa aku harus menikah dengannya, kalau tidak salah itu adalah aturan dari koloni kami. Tentu dibutuhkan alat-alat khusus untuk menangkap invertebrata sebesar itu، jikala itu peralatan yang dibutuhkan untuk menangkap mantis itu adalah Tranquilizer Ballistabolt dan burung Argentavis. Hanya dengan kedua syarat tersebut mantis bisa dijinakan. Entah beberapa hari, jam atau lama kemudian aku dan si SJR memulai perburuan. Perburuan dimulai, kami mencari mantis itu di tengah-tengah hutan Redwood, saat itu kami menunggangi burung Argentavis, ya burung itu sangatlah besar, bisa cukup untuk dua orang dan satu Ballistabolt. Tak lama kemudian kami menemukan si mantis itu, benar saja dia sangatlah besar. Aku yang mengemudikan Argentavis dan si SJR yang menembaki mantis dengan Ballistabolt nya. Beberapa kali kami hampir terkena serangan mantis itu, tapi aku rasa kami lebih cepat dan gesit. Butuh beberapa kali tembakan ballista dengan Tranquilizer agar si mantis terkapar. Setelah bertarung dengan sengitnya, kami berhasil merubuhkan si mantis dan semua warga Redwood menyoraki kami seakan-akan kami adalah pahlawan merka. Tadinya pernikahan kami ingin sampai di sini saja, tapi kami "ketagihan" (bukan ketagihan ngens -_-) tapi disini kami ketagihan memburu makhluk-makhluk raksasa. Pada akhirnya kami memutuskan melanjutkan hubungan kami dengan pekerjaan baru dan julukan baru yaitu "Pemburu hewan raksasa."

   "Hallo, hallo... Ya ya ya, saya mengerti." Kami mendapatkan panggilan tugas, tugas pertama untuk memburu hewan raksasa. Kali ini kami ditugaskan untuk menangkap Sarco yaitu buaya raksasa yang panjangnya kira-kira 11-12 meter. Kami segera datang ke tempat di mana sarco itu berada. Aku menggunakan senjata panah (compound bow) dan si SJR menggunakn crossbow. Kami tiba rumah seorang wanita tua yang bergaya aneh, wanita itu seperti wanita yang berbulu mata aneh di film Hunger Game, dia jika tidak salah adalah guberur/walikota wilayahnya. "Tolong, bantu kami menangkap buaya besar itu." Dia meminta kepada kami. Setelah itu kami menuruni tangga ke bawah tanah. Ternyata tangga itu menuju ke gorong-gorong bawah tanah, di bawah ini adalah ruangan pengaturan gorong-gorong tersebut. Kami sedikit berbincang tentang buaya itu. Setelah itu, kami melihat sarco itu, segera kami mengejar buaya itu, tapi tiba-tiba ada Joker yang menghalangi kami, "Awas woi!" Teriaku. Dia hanya tersenyum gila seperti joker biasanya, setelah itu aku melihat sarco ingin mencakar anak kucing di ujung ruangan, aku teriak "STOP!" Ke si sarco itu. Lalu sarco itu pergi ke sungai hijau di gorong-gorong itu. "Halo, halo ini aku. Tolong perintahkan masyarakat untuk berhati-hati dan kepada petugas keamanan untuk segera menangkap... Apa itu... Apa.. itu dia buaya raksasa, sarco." Kata wanita gubernur itu dengan paniknya. Kami ingin menghampiri dua anak kucing itu, tetapi tiba-tiba orang tua ku (versi muda) menghampiri dua anak kucing itu dan ibu ku ingin memenggal kepala anak kucing itu, dia sudah mengangkat pedangnya. "STOP!" Teriak ku sambil berlari ke arah anak kucng itu, aku segera mengambil anak kucing itu dan mengelusnya​, kucing yang aku elus adalah anal kucing berwarna kuning, sedangkan si SJR juga mengelus anak kucing yang berwarna abu-abu. Entah mengapa kami menangis karena kasihan kepada anak-anak kucing itu.

Postingan populer dari blog ini

Hidup yang Aku Inginkan, Mimpi 11

Mimpi --/--/2016 Hari-hari dijalani seperti biasa, tidak ada yang menarik ataupun tanda-tanda yang spesial tapi malam ini aku mendapati mimpi yang spesial... kisaran pukul 3 pagi aku mendapati mimpi ini... Ada tiga orang sosok yang mendatangi rumahku saat itu. tiga sosok itu masih blur  dari kejauhan, tidak jelas siapa ke-3 orang itu. Perlahan-lahan mereka menghampiri rumahku, akhirnya mereka masuk ke dalam rumahku. Saat itu aku tidak tahu mereka, aku sedang berada di dalam kamarku, salah satu tempat terindah di dunia. Mereka bertiga duduk di kursi di ruang tamu, aku tidak peduli siapa itu tapi, tidak lama orang tuaku memanggil ku untuk keluar kamar dan menemui tamu-tamu itu. Aku pun mematuhi perintah orang tuaku dan segera keluar kamar. Aku ingat saat itu aku mengenakan baju koko berwarna putih dan celana bahan hitam yang biasa aku kenakan untuk pergi ke masjid. Yah... aku keluar dari duniaku. Aku keluar kamar dan menemui tamu-tamu tersebut, aku lihat wajah-wajah ta...

Vila, Mimpi 13

12/03/2017    Barudak kelas ku (XII A6) sedang berlibur ke vila, entah vila itu berada di mana, yang jelas jenis bangunan vilanya adalah berarsitektur seperti gedung putih, ya seperti vila jaman dahulu, cat nya berwarna putih, dan cukup besar untuk kami. Entah mengapa saat  kami sudah berada di vila tersebut, bukannya kami bersenang-senang malahan kami belajar. Hanya sebagian dari kami yang mengikuti pelajaran di vila itu, tidak tahu pelajaran apa itu jelasnya. Sebgian lagi kalau tidak salah telat atau jam siang, yang jelas sebagian (absen atas) ada di kelas ini. Kelas ini seperti kelas di SSC saat aku SD hanya saja bangukunya adalah pergabungan antara bangku tempat les dan bangku sekolah (kelas 12). Aku tidak ingat pelajaran apa itu, tapi saat dipenghujung jam terakhir, saat pergantian kelas, tiba-tiba ada temanku bernama si Depanku tiba-tiba pingsan dan kejang-kejang. Refleks semuanya melihat padanya, semua orang terheran-heran mengapa dia bisa seperti itu. Tidak la...